Gambar

Ruang makan

Dimanakah jantung, pusat emosi, dan pusat peredaran energi bagi sebuah rumah?

Taruhan, adanya di ruang makan.

Makan, kadang tidak sekedar mengunyah dan menelan, lalu kenyang. Makan, adalah pemasukan energi, dari hidangan dan juga dari orang yang ada di sebelah dan di hadapan kita ketika bersantap.

Senang bukan kalau bisa bersantap bersama seseorang?

Adalah energi yang masuk, tidak hanya dari sepiring hidangan. Tapi dari kebahagiaan yang dibagi, dan kesedihan yang dipikul bersama.

Kedua-duanya menguatkan.

Iklan

Sakit: Yang Gak Pengin Undang, Yang Tiba-tiba Datang

Sakit.

Kabar terakir yang pengin saya denger dari seorang teman adalah kabar sakit, atau mengabarkan teman lainnya sedang sakit. Siapa mau sakit? Kita suka berkelit kalau sakit itu nggak pernah ngabarin kalau datang.¬† Iya betul, tapi sakit siapa yang undang? Ya siapa lagi…

Tau sendiri kan gimana rencana-rencana kacau gara-gara sakit? :)

Tau sendiri kan gimana rencana-rencana kacau gara-gara sakit? ūüôā

Baca lebih lanjut

Ketika Seni Bisa Hidup di Luar Galeri

vvf6

Publikasi Pameran Village Video Festival 2011, sekaligus launching JAF TV untuk pertama kalinya, diselenggarakan via siaran langsung di Desa Jatisura

Pertengahan 2012 lalu departemen kebudayaan pernah keukeuh ingin memberikan cap untuk membedakan siapa seniman dan siapa bukan dengan memberikan sertifikasi. Padahal tentang siapa itu yang bisa disebut seniman belum pernah ukuran yang  pasti. Bahkan, pembakuan tersebut hanya memicu banyak perdebatan di televisi. Teman saya yang seorang video maker dan sering berurusan dengan seniman punya jawaban yang sama tidak pastinya. Seniman itu orang yang boleh melakukan apa saja katanya,  dan apa saja itu bisa-bisa saja lah atas nama seni. Apa saja termasuk hal-hal yang tidak pernah terbayangkan dan tidak perlu dimengerti. Saya rasa, bisa dibilang kami menyepakati bahwa seniman sering menggunakan bahasa yang cenderung tinggi dan hanya bisa dimengerti di dalam Galeri.

Jika definisi seni dan seniman itu tinggi tak tercapai dan terukur, di Jatiwangi Art Factory lain ceritanya. Di Jatiwagi Art Factory, seni menjadi menapak ke bumi mendampingi masyarakat, dan meski seni itu abstrak, disini ia bisa menjawab permasalahan yang kongkrit. Dan seniman, adalah orang-orang yang dipercaya dalam pemberdayaan di Desa Jatisura.  Di Jatisura banyak hal terjawab  ketika kita percaya kekuatan seni. Baca lebih lanjut

When Underdog Meets Hope

UNDERDOG adalah kata yang menyatukan Deddy Mizwar dan Septhen Chow. Keduanya pernah memasang tokoh-tokoh underdog di karya-karyanya. Dalam Sinetron Para Pencari Tuhan, Deddy Mizwar memasang 3 mantan napi yang baru bebas dari penjara. Stephen Chow dalam Shaolin Soccer memasang seorang gembel yang punya ilmu Kung Fu di tengah dunia yang skeptis pada Kung fu. Tiga mantan napi itu berusaha untuk berhasil jadi orang di tengah masyarakat yang selalu berburuk sangka pada orang yang baru keluar dari penjara. Sementara si gembel-ahli-kung fu yakin pada suatu hari Kung fu akan kembali populer dan semua orang di dunia akan menggunakannya dalam hal yang paling sehari-hari sekalipun… misalnya untuk menyelamatkan diri ketika kepeleset atau untuk memudahkan parkir mobil. Hihi…

Stephen Chow (pemeran dan sutradara) dalam Shaolin Soccer. (gambar diambil dari film club.org)

Dengan bertemu orang dan situasi yang tepat, mereka bisa mencapai visinya. Ketiga mantan napi bertemu dengan Bang Jack, ustad musola kecil yang slengean tapi berprinsip kuat. Dan si gembel bertemu pelatih sepakbola yang menemukan bahwa Kung fu bisa dipakai untuk bermain sepak bola!

Keduanya mencoba membuat orang berpikir everything is possible. Berharap itu boleh, karena bisa. Karena bisa saja tercapai.

Semoga.

Terdengar seperti fiksi?

Pernah dengar kehebatan Tsubasa? Bahwa Jepang berjaya di Piala Dunia bertahun-tahun justru setelah anak-anak Jepang membaca dan menonton Tsubasa dan timnya (dalam kartun Jepang Captain Tsubasa)?

Saya pikir, itulah kekuatan harapan.

Mempertanyakan “Your Job is Not Your Career”

gambar: sunyrockland.edu

“Your Job is not your career”, adalah mantra ajaib Rene Suhardono sang Career Coach kondang dalam buku yang berjudul sama. Lama saya cerna kalimat itu. Selama ini kita tahu bahwa karir adalah perjalanan pekerjaan kita. Perjalanan yang dimaksudkan untuk semakin berjalannya waktu, semakin tinggi posisinya semakin besar tanggung jawabnya. Dan ehem… Semakin besar dan banyak kompensasinya (baca: gaji, upah, bonus, dll ). Pemahaman ini kentara sekali di mata orang tua. Orang tua biasanya akan berharap anda mendapat pekerjaan tetap dengan jalur posisi, tanggung jawab, dan kompensasi bisa lebih berkembang. Lebih sempit lagi, pekerjaan semacam itu biasanya adalah dengan menjadi pegawai negeri sipil, pegawai di bank, atau segala sesuatu yang berbau kantor dengan banyak jenjang jabatan untuk diraih. Dan semakin bagus ‘karir’ anda itu, anda akan semakin terhormat anda di mata mertua… ehem… masyarakat. Baca lebih lanjut

Fun Food Photo Session!

Karena hidup ini menyenangkan… Makanya mari kita surak dulu…

XD

Kali ini saya ingin bercerita tentang hal yang menyenangkan akhir-akhir ini. Adalah project menyenangkan bernama Sangu Asak Surak photo session! Projek ini saya lakukan bersama kakak saya, Rian Afriadi. Dia adalah seorang fotografer lepas yang hobinya adalah menjadi pegawai di Kantor Pelayanan Pajak di Bekasi (bukannya kebalik, ya?). Dia belajar otodidak, tapi sangat  serius menekuni street photography dan documentary photography. Tahun kemarin, salah satu fotonya mendapatkan penghargaan  dari Binus Internationoal Photo Contest sebagai Honorable Mention.

Semenjak keliah tingkat dua di UNSIL, saya sering didaulat menjadi tukang gambar poster kalau ada event yang diadakan oleh HIMATANSI, Himpunan Mahasiswa Akuntansi UNSIL. Gara-gara itu, setiap lihat huruf-huruf yang salah ditempatin di poster-poster, billboard, atau brosur, rasanya gatel mata pengen meng-crop saja itu gambar. Emangnya Corel yaa….

Penyakit kegatelan itu berlangsung sampai sekarang. Pun saat melihat menu restoran Ibu saya yang sangat polos. ¬†Karena itulah saya berinisiatif untuk merombak desain menu yang ada di restoran sunda klasik milik Ibu saya, Riung Gunung. Riung Gunung, ¬†restoran yang kalau menurut seorang sutradara, ¬†Lasja Fauzia, ¬†mengunjunginya seperti mengunjungi rumah nenek. Saya rasa kegatelan saya beralasan, ¬†karena ¬†menu adalah alat ngabibita bagi pengunjung yang sedang duduk kelaparan di restoran anda. Jadi, untuk membuat pengunjung anda lebih kalap dan lapar lagi, saya berencana untuk menambahkan foto-foto ke dalam desain menu yang baru… yang tentunya dikerjakan oleh kami berdua!

Proses pengambilan kami lakukan di studio satu, alias studio satu-satunya. Itu juda studio-studioan, karena hanya terdiri dari meja, kalender, dua lampu baca, dan tentunya mata-mata yang cemerlang!

Kami bukan food prhotographer, jadi ilmunya memang belom teruji. Tapi kami rasa kami punya insting yang penting dalam pengerjaan food photography ini. Namanya ‘insting lapar’. Yang mana sehabis pengambilan gambar, jadi tak sabar ¬†untuk makan…

Sudahlah, saya rasa anda sudah terlalu lapar. Ini saya segera sajikan makanannya.. eh, fotonya.

Menu baru kami, Bebek Sangan Bumbu Sambal Bakar

Ayam Bakar resep karuhun ala Riung Gunung

Gepuk Riung Gunung

Itulah sedikit intipan isi restoran kami… Semoga Anda kalap dan datang ke Jl. Dr. Moh. Hatta No. 18 dan mencicipi rasa dari karuhun kami sambil bergembira bersama keluarga…

Dua Petani Mandalamekar, dan Penglihatan Jauh Mereka

‚ÄúPerangai tanaman yang menuntut perhatian membentuk mereka menjadi tekun. Kebijakan mereka adalah tak menabur-tak memelihara-tak memanen. Falsafah bertani membuat para petani menjadi pribadi-pribadi yang penuh perencanaan, penyabar, dan gemar¬† menabung.‚ÄĚ

-Andrea Hirata, Cinta Dalam Gelas ‚Äď

 ***

Satu klik tetikus mengantar saya ke situs mandalamekar, mengenalkan saya kepada sekumpulan ‚Äėorang tua‚Äô¬† yang melangkahi pengguna internet lainnya di Indonesia dengan kemajuan penggunaan teknologi informasi dan Open Source-nya. Jika ini terjadi di kota besar kami anggap wajar.¬† Tapi letaknya di bagian selatan Tasikmalaya yang berbukit-bukit dan terpencil sampai hati membuat penasaran. Lantas berbekal informasi¬† tempat perhentian bernama Cinunjang yang entah itu dimana, kami ‚Äď saya, Maya (22), dan Yudha (26)¬† seorang¬† aktivis jurnalisme warga online¬† ‚Äď mencoba banyak kemungkinan ¬†untuk tiba disana, desa Mandalamekar. Baca lebih lanjut